“Peralatan early warning system senilai Rp 40 milyar”

Peluang Bisnis memang bisa datang dari mana saja dan kapan saja. Tak terkecuali disaat bencana alam mendera. “Pasca bencana adalah sebuah peluang bisnis” ujar Sofyan dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) eksekutif Nasional saat berbicara dalam diskusi bertema Lingkungan dan Tata Ruang Pasca Bencana di kampus Mrican Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Senin (11/6).

Ini memang tidak bisa dipungkiri lagi. Disaat bencana alam gempa bumi 5,9 SR yang terjadi 27 juni 2006 di jogja, banyak yang menangguk untung karenanya. banyak masyarakat membuka toko penyedia bahan-bahan bangunan untuk rumah. Seperti jualan bambu, semen, pasir, batu bata, dll.

Bantuan yang diberikan sebuah negara asing pada hakekatnya juga tidak lepas dari bisnis. Misalnya adalah sistem peralatan early warning system senilai Rp 40 milyar yang diberikan Jerman kepada Indonesia. “Tetapi biaya perawatannya serta tenaga ahlinya yang harus didatangkan dari sana tentu saja tidak gratis. Ini juga sebuah bisnis”. Padahal menurutnya, hal seperti ini tidak perlu dilakukan karena Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mampu menciptakan peralatan yang lebih canggih. Namun sayang malah tidak digunakan, demikian tulis Bambang MBK dalam situs aji jogja mengutip sofyan.

Lebih lanjut Sofyan menjelaskan berbagai perusahaan menangguk keuntungan yang banyak pasca bencana. Perusahaan indofood (pembuat mie instan) misalnya pasti penjualannya naik tajam. Begitu pula dengan perusahaan transportasi dan komunikasi, ujar Sofyan. Mie Instan adalah salah satu item bantuan yang selalu ada. Begitu pula dengan air minum dalam kemasan. Sofyan juga menambahkan, pemerintah juga untung, uang milyaran masih belom bisa dipertanggungjawabkan.

Lalu bagaimana kasus pembagian dana rekonstruksi yang “katanya ” tidak sampai/sesuai sasaran? apakah itu termasuk peluang bisnis?