Berkepala Tikus Berekor Gajah
Bisnis, Inspirasi, Marketing, TipsBingung dengan judul diatas? tidak usah bingung, karena itu hanya sebuah perumpaan atau sebuah pepatah. Dalam bisnis anda bisa saja menjadi Tikus, ataupun Gajah. Ada yang berpendapat lebih baik berkepala tikus daripada gajah. Namun ada juga yang berpendapat jika menjadi gajah itu juga lebih baik. Jika seorang yang idealis mungkin akan tetap berpegang teguh pada prinsipnya. Bagaimana dengan anda?
Menjadi salah satu dari keduanya sah-sah saja. Lalu maksud dari pepatah tersebut apa? jika anda yang tidak tau dengan pepatah diatas, kurang lebihnya seperti ini. Lebih baik berkepala tikus maksudnya Lebih baik anda memulai bisnis anda dari nol dan memilih produk yang kurang banyak pesaingnya, dan itu merupakan produk asli dari anda, atau bahkan produk unik. Yang tidak ikut-ikutan orang lain. Kalau menjadi gajah merupakan kebalikannya, walaupun bisnisnya besar tapi ikut-ikutan orang lain, atau hanya meniru.
Kalau dilihat dari bisnis anda sekarang, anda termasuk dari yang mana? apakah berkepala tikus? atau gajah? lalu jika anda disuruh memilih diantara keduanya, anda akan memilih yang mana? apakah anda harus bersifat idealis dalam bisnis? bagaimana jika itu tidak menguntungkan?
Mungkin kalau saya akan memilih Lebih baik berkepala tikus berekor gajah. Ya begitulah, kita bebas memilih. Kemana arah masa depan sebuah bisnis akan dibawa itu terserah kita. Jika demikian, tentukan arah bisnis anda mulai sekarang.
Ikut Bisnis Online dengan modal Pas-Pasan, KLIK DISINI.






memang kalau mau berbicara idealisme dalam dunia bisnis sangat sulit untuk kita terapkan atau realisasikan di dalam dunia bisnis yang kita pilih, karena banyak aspek yang mempengaruhi idealisme dalam dunia bisnis. sehingga kita harus kreatif dan inovatif dalam menarik minat konsumen dan menjaga kualitas dari produk yang kita hasilkan.
kalau kita lihat “kepala tikus” memang dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif (trendsetter) agar dapat bersaing dengan “kepala tikus” yang lain. salah satunya dengan meningkatkan manajemen pemasaran dan manajemen produksi. namun apabila telah terjadi kesuksesan dalam dunia bisnis ini, maka “kepala tikus” inilah yang menjadi pelopor produk yang dihasilkan. tinggal bagaimana kita dapat mempertahankan “pelopor produk” tersebut?
sedangkan untuk “kepala gajah” tidak terlalu dituntut kreatifitasnya namun butuh keuletan dan kecekatan dalam manajemen pemasaran dan manajemen biaya. “kepala gajah” memang dianggap follower namun banyak “kepala gajah” yang berkecimpung dalam dunia bisnis yang sama, sehingga persaingan antar “kepala gajah” ini sangat berat.
menurut saya lebih condong ke “kepala tikus”.
Komentarnya bagus, kalau memilih berkepala tikus, hati-hati dengan kepala kucing
. btw, ekornya masih tetep tikus juga ya?
Mau pilih yg mana aku rasa gak masalah selama gak merugikan orang lain. Kan banyak tuh yg idealis tapi kerjaannya nyela orang lain
Beberapa waktu lalu aku sempat “diingatkan” oleh salah seorang teman yg juga pebisnis internet.
“Idealis boleh2 saja, apalagi saat masih muda, namun nanti ada saatnya kita harus buang idealisme itu untuk sesuatu yg lebih penting. Keluarga misalnya. Masa’ anak kita mo dikasih makan idealisme…”
Jadi mungkin intinya, sebelum berkeluarga, kumpulin duit aja sebanyak2nya dng idealisme kita, hehehe.
makasih udah comment disini.
kepala tikus berarti harus menciptakan produk sendiri ya?
wah kalau begitu sangat sulit dong, bukannya dlm berbisnis itu kita menjual sesuatu yg banyak dicari org lain?
Yang memang harus begitu kalau ingin menjadi pioneer. Tetapi kalau kita sendiri gak bisa, jangan dipaksakan, pilih berkepala gajah aja. tapi jangan sampai cuma ikut2an tapi juga gak mendapatkan apa2. Sebisa mungkin ikut sukses dengan apa yang diikutinya.
mas, sms ku masuk ngga?
di undangan worksshop ga bisa coment kagi ya?
Rejeki orang macem2,spt dah dcritain bhw jualan kerupuk keli2ng pun akhirnya bs kaya.jd lbh baik ngebahas follow up pilihan jd tikus ato gajah,biar ga salah langkah.bukannya bahas mo jd tikus ato gajah bro.
hehehe, kalau menentukan pilihan aja masih bingung, gimana mau follow-up nya