Pak Slamet Handayana merupakan “teman” baru saya, yang dipertemukan secara tidak sengaja di internet, karena suatu urusan bisnis kecil-kecilan. Pada suatu saat Pak Slamet, begitu biasa saya memanggil beliau, meminta bantuan kepada saya, bantuan moril mungkin kalau bisa saya sebut. Masalahnya pun ternyata tidak sepele.

Berawal dari membaca berita di beritakota.net dengan judul “Keluarga Korban Tagih Janji PT Semen Gresik” saya baru tahu, bahwa beliau telah kehilangan seorang anak kesayangannya Dimas Aji Zulhakim 26 Pebruari 2009 karena suatu kecelakaan di PT Semen Gresik.

Pak Slamet yang merupakan warga Ds. Bogor Tlogowaru Kecamatan Merakurak Kabupaten Tuban, diberikan janji oleh PT. SG akan diberikan warung yang berlokasi di cargo (area parkir kendaraan perusahan) sebagai bentuk kompensasi atau kepedulihan dari PT SG. Namun sampai detik janji tersebut belum terrealisasi.

Sebelumnya, pada tanggal 6 april 2009 pihak PT SG sudah bertemu dengan pihak keluarga yang difasilitasi oleh Dirut PT. UTSG (Anak perusahan PT.SG), yang mana agar pihak keluarga korban tidak mempermasalahkan atas meninggalnya Almr.Dimas Aji Zulhakim tersebut dengan janji akan memberikan bantuan usaha berupa warung yang berlokasi di sekitar perusahan.

“Kita diminta untuk tidak mempermasalahkan meninggalnya anak kami, yang mana kecelakan tersebut dari keterangan teman-teman almarhum anak saya adalah memang keteledoran dari SG, yang mana pintu penutup mesin pembersih semen yang terserak tidak segera ditutup,” kata Pak Slamet.

Pak Slamet juga mengungkapkan, kalau pihaknya telah menerima bantuan pemakaman sebesar Rp. 10 juta dari PT.SG, akan tetepi karena hingga saat ini belum ada kejelasan, ia kembali mempertanyakan hal tersebut.

Pak Slamet yang mengaku setiap sore selalu mengunjungi makam anak-nya menuturkan “Yang menjadikan keluarga kami agak sedikit tersinggung adalah ucapan dari salah satu karyawan PT. SG yang seakan-akan semua bisa dibeli dengan uang, bahkan nyawa anak saya,”.

Syaifudin Zuhri, Kadiv Humas PT.SG mengungkapkan seperti dikutip di beritakota, kalau pihaknya hingga saat ini selalu beritikat baik pada masyarakat sekitar perusahaan, termasuk karyawan yang bekerja di perusahan BUMN ini. Bahkan termasuk bantuan biaya pemakaman yang berasal dari PT.SG adalah bagian dari kepedulian perusahaan.

Lebih lanjut, Kadiv Humas PT.SG ini menjelaskan terkait dengan warung yang dijanjikan pada keluarga korban, bahwa pihaknya sudah menyerahkan sepenuhnya hal tersebut pada Puerwanto Setyo Hutomo kepala desa (Kades) Bogor Tlogowaru, yang mana beberapa warung yang sudah berdiri di sekitar Cargo tersebut adalah masuk dalam penanganan Kades.

Dimas Aji Zulhakim

Dimas Aji Zulhakim merupakan karyawan dari CV.Srikandi, sebuah perusahan jasa kebersihan yang melakukan pekerjaan di PT.SG. Pada saat terjadinya kecelakaaan tersebut, pada siang harinya, PT SG upacara menerima penghargaan K3 dari pemerintah pusat terkait dengan Zero Accident yang di terima PT.SG dan anak perusahaanya yang diserahkan oleh Bupati Tuban, Dra.Hj.Haeny Relawati RW,M.Si. Sebelum bekerja Ia setelah lulus sekolah tingkat atas ia meneruskan kuliah di UPN yogyakarta, namun karena masalah keuangan ia mengundurkan diri. Dimas Aji Zulhakim merupakan anak yang mandiri, yang tidak mau membebani keluarganya.

Dari cerita diatas apa yang akan anda lakukan jika itu menimpa pada keluarga anda? Jika anda ingin mendukung Pak Slamet secara moril, anda bisa Sharing artikel ini di facebook, atau bisa memberikan link atau bisa re-publish/ posting di blog anda, atau dengan cara apapun, supaya lebih banyak yg mendengar keluh kesahnya, sehingga masalahnya bisa cepat terselesaikan. DUKUNG Pak Slamet Handayana!