Tulisan ini bukan karena kata- kata Thukul Arwana yang saat ini terkenal dengan menjadi host di Empatmata. Thukul mengatakan wajah desa, rejeki kota. Masih banyak thukul-thukul lain yang rejekinya (baca:usaha) melimpah walaupun tinggal di desa. Namun sampai saat ini kadang masih saja terjadi di beberapa tempat yang dengan terang-terangan menghina orang desa. Mungkin hanya cara berpakaian yang tidak gaul seperti orang kota sehingga diremehkan.

Ada seorang ibu-ibu yang menggunakan sandal jepit masuk restoran mewah, belom sampai ibu-ibu tersebut memesan makanan, si pelayan restoran sudah menyuruhnya pergi. Memang menyuruh perginya dengan baik tetapi menyakitkan, pelayan tersebut memberikan teh manis hangat yang di bungkus plastik dan meminta ibu tadi meninggalkan restoran tersebut. Merasa di remehkan, ibu tadi mengeluarkan tas miliknya, ia keluarkan uang yang ada dalam tasnya sambil berkata apa anda kira saya tidak mampu membayar jika saya makan di restoran ini?.

Dengan sedikit cerita tadi tentu kita semua tau, bahwa orang yang berduit tidak hanya orang kota, memang kebetulan orang kaya kebanyakan tinggal di kota. Hanya saja bukan berarti orang desa tidak memiliki hak untuk kaya. Orang desa memang identik dengan kemiskinan, dan kota dengan kekayaan. Namun kadang kita malah tidak bisa membedakan antara kaya dan miskin. Karena kaya dan miskin apabila hanya dilihat dari rumah atau kendaraannya, itu belum bisa akurat. Saat ini orang yang biasa-biasa saja mampu kredit rumah atau mobil. Tetapi anda akan heran jika melihat di desa, dengan hanya mengendarai motor tua, namun usahanya ada dimana-mana. Banyak orang-orang desa yang sudah kaya namun tetap tinggal didesanya, mereka tidak tergiur oleh keramain kota. Walaupun mungkin semua transaksi bisnisnya banyak dilakukan di kota.

Seorang pengusaha penggilingan padi mulanya hanya memiliki satu mesin penggilingan, seiring dengan ramai tempat usahanya, akhirnya bisa memiliki beberapa mesin penggilingan. Dari hasil usahanya tersebut ia belikan sawah, lalu sawah tersebut ia sewakan persekali panen. Dari sepetak sawah bertambah menjadi berhektar-hektar, Dan bisa dibayangkan berapa uang yang bisa ia raih dari hasil panen dan penggilingannya.