Yang dulu biasa di identikkan dengan yang tahu dan yang sukses. Tetapi semua tidak seperti itu, jadi saya rasa takut bersaing dengan yang lebih dulu atau dengan yang lebih tua adalah sebuah kesalahan. Seperti yang saya tulis sebelumnya, jika ingin pintar dan kreatif harus berani bersaing dengan siapa saja. Entah ia lebih pintar, lebih tahu, lebih tua, ataupun lebih dulu menggelutinya.

Ada sebuah pengalaman ketika diadakannya sebuah lomba foto model. Disana berkumpul fotografer profesional dan pemula. Dan mungkin anda juga menduga bahwa yang menang pasti mereka yang sudah profesional seperti saya duga waktu itu, tetapi dugaan saya tersebut ternyata meleset sangat-sangat jauh. Yang keluar sebagai pemenang adalah orang yang masih baru dalam dunia fotografi. Bahkan untuk mensetting kameranya pun ia belum mahir. Dilihat dari tingkah lakunya dalam mengambil gambar ia masih malu-malu, seperti tidak percaya diri, dan itu dibuktikan oleh pengakuannya sendiri. Walaupun ini hanya faktor lucky, tetapi itu sudah bisa menjadi bukti bahwa yang dulu dan yang lebih tahu bukan berarti selalu menang dan sukses. Dan jika memang benar faktor lucky, kenapa kita tidak juga mencarinya?

Saya sendiri ketika mengajak orang lain untuk berbisnis sering sekali mereka lebih sukses dalam segi materi. Itu tidak hanya terjadi dalam bisnis offline saja, tetapi bisnis online juga demikian, yang dulu mereka bertanya ke saya tetapi malah mendapatkan uang lebih besar dan mereka duluan mendapatkan uangnya daripada saya. Apakah saya malu? tidak, saya tidak malu jika hanya orang yang tadinya bertanya kepada saya lebih sukses dari saya.

Menang dan sukses memang bukanlah tujuan akhir dari segalanya. Karena kesuksesan tidak ada ukuran pastinya. Yang perlu kita kerjakan hanya belajar dan belajar. Terus berjuang, memperbaiki kesalahan, membenahi semua kekurangan. Intinya selalu berusaha untuk tampil lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian secara tidak langsung kita akan selalu terpacu untuk menjadi yang terbaik. Tidak perlu menghunus pedang seperti yang dilakukan oleh tetangga teman saya yang sedang berdagang. Waktu itu teman saya yang sedang mencari tempat untuk berdagang makanan, setelah mendapat tempat, tanpa minta ijin kanan-kiri (hanya minta ijin dengan yang punya tempat), ternyata pedagang makanan sekaligus warung kelontong yang lebih dulu berdagang di daerah itu marah, karena merasa tersaingi. Sehingga ia mengeluarkan pedangnya dan mengusir teman saya dari daerah tersebut. Merasa tidak melakukan kesalahan, teman saya tidak mundur, tetapi tidak melawan dan hanya mengalah. Jika pendahulunya berjualan makanannya pada siang hari, maka teman saya tersebut memilih berjualan pada sore hingga malam hari. Dan akhirnya itu menjadi solusi diantara keduanya tanpa teman saya harus meninggalkan tempat yang menurutnya bagus.

Kenapa teman saya tersebut berani seperti itu? sekarang sudah ada jawabannya. Dulu tempat yang menurutnya bagus tersebut ternyata memang benar-benar bagus. Karena banyak yang ingin berjualan di tempat itu. Bahkan tempat yang dipakai oleh teman tersebut sudah ditawar oleh seseorang seharga 4 juta. Itu bukan untuk membeli tempatnya, tetapi hanya ingin bergantian berjualan ditempat itu seminggu sekali. Padahal jika menjual tempat usaha tersebut hanya laku sekitar 2 hingga 3 jutaan. Ia memang jeli dalam memilih tempat, terbukti 2 tempat yang ia miliki banyak mendatangkan pelanggan.

Menang dan Sukses biarlah waktu yang menentukan, kita hanya mengerjakan setiap rencana yang sudah disusun dengan melakukan inovasi-inovasi menarik. Dan yang lebih penting adalah jangan menyakiti pesaing, pelanggan, dan semua orang :) Semoga Bermanfaat!